Select Page

MERUPAKAN anak kedua dari tiga bersaudara, Trinity mengungkapkan jika kegemaran jalan-jalan sudah jadi budaya di keluarganya. Meski begitu, hanya ia yang senang menuangkan kisah jalan-jalan itu ke tulisan.

Wisata ala keluarganya juga bukan sekadar menikmati alam, melainkan juga menumbuhkan keberanian dan kemandirian bertualang. Orangtua Trinity biasa menitipkan anak-anak mereka di rumah saudara ataupun nenek saat liburan dengan maksud agar anak-anak dapat mengeksplorasi tempat sekitar.

Saat usia SMP, Trinity semakin diberi kepercayaan untuk bertualang. Ia biasa camping atau jalan ke luar daerah bersama teman-teman. Orangtuanya hanya memberikan catatan panduan soal kendaraan dan tenggat pulang. Di usia 15 tahun saat duduk di SMA, Trinity mendapat pengalaman pertama keluar negeri.

Kala itu ia mengalami sakit mata sehingga harus berobat di Singapura. Lantaran tidak bisa mengantar, ibunya hanya memberi catatan petunjuk soal check-in penerbangan hingga urusan imigrasi. Di Singapura, seusai cek mata, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan jalan-jalan selama tiga hari

“Dari situ mikir, ternyata enggak menakutkan pergi sendiri. Zaman dulu itu aneh banget. kalau sekarang kan kita bisa dicek, ada handphone, bisa cari lokasi GPS di mana. Kalau dulu kan kita bener-bener enggak tau cara ke luar negeri,”katanya.

Dari pengalamannya itu, Trinity menilai, banyak anak-anak takut bepergian sendiri karena orangtua tidak memberikan kepercayaan. Malah tidak jarang orangtua menakut-nakuti.

Padahal, bepergian sendiri memiliki banyak manfaat untuk anak, termasuk melatih kemandirian, kepercayaan diri, dan bertoleransi karena mengenal budaya lain. Meski begitu, tentunya orangtua harus tetap menjalankan tanggung jawab dengan memberi pembekalan pengetahuan yang lengkap. (TS/M-1)

Sumber: http://m.mediaindonesia.com/read/detail/215271-sekeluarga-doyan-jalan