Select Page

TIDAK banyak yang tahu nama Trinity di lingkungan tempat tinggalnya, di Jalan Delman, Tanah Kusir, Jakarta. Meski telah tinggal lama di kediaman orangtuanya tersebut, Trinity menyembunyikan identitas tenarnya kepada lingkungan sekitar.

Trinity adalah nama pena yang dipilih penulis blog The Naked Traveler dan seri buku dengan judul sama. Seri bukunya ini baru saja sampai ke seri terakhir. Kisah Trinity juga sudah difilmkan dengan judul Trinity, The Nekad Traveler yang dibintangi Maudy Ayunda dan Hamish Daud.

Mengunjungi rumah sang penulis pada Selasa (15/1), Media Indonesia disambut Trinity dengan penampilan santai berkaus dan celana pendek.

Seperti juga cara bertuturnya di blog, Trinity berbicara dengan gaya lugas yang hangat dan ceplas-ceplos.

Meluncurkan resmi buku kedelapan sekaligus buku terakhir, The Naked Traveler 8: The Farewell, pada 11 Januari, perempuan berambut pendek itu mengaku sedang menikmati waktu rehat. Ia lebih banyak meluangkan waktu di rumah, berolahraga, berkumpul dengan teman-teman, dan menikmati kuliner.

“Tapi meski ingin istirahat, selalu saja ada acara, seperti ada wawancara, bicara di suatu acara, atau promosi buku. Kalau jalan-jalannya sih enggak pernah capek, tapi yang capek itu kalau habis jalan-jalan itu harus nulis apalagi ada deadline,” katanya.

Rehat memang hal wajar bagi perempuan yang telah menerbitkan total 15 buku dan hampir semuanya masuk best-selling nasional ini. Ia telah menjelajah ke 89 negara, termasuk perjalanan satu tahun keliling dunia mulai Oktober 2012.

Kisah perjalanan yang ia bagikan menyentuh banyak orang, jumlah pengikut akun media sosial, hingga sederet penghargaan inspirasional yang diberikan padanya.

Perempuan dengan 95 ribu lebih pengikut di akun @trinitytraveler itu di antaranya dinobatkan sebagai Indonesia Leading Travel Writer dari Indonesia Travel & Tourism Awards 2010 dan Indonesia Most Influential Personality in Social Media kategori travel dari majalah SWA 2012. Popularitasnya bisa dilihat pula sebagai pionir gelombang generasi travel blogger.

Sebuah profesi yang kini bahkan juga dipilih orang-orang yang sebelumnya punya karier mapan, contohnya mantan penyiar berita Marischka Prudence.

Mengilas balik kiprahnya, Trinity mengaku sudah terbiasa jalan-jalan sekaligus menulis sejak SD dan berlanjut sampai dewasa. “Zaman dulu belum ada internet. Kalau habis jalan-jalan itu diketik, terus difotokopi, dibagiin ke teman-teman, jadi supaya ceritanya enggak ngulang-ngulang lagi,” tutur perempuan yang saat berkuliah di Universitas Diponegoro itu pernah bergabung di pers kampus, Manunggal.

Ide membuat blog datang dari salah seorang temannya yang biasa ikut membaca cerita perjalanannya, yang kemudian terwujud pada 2005. Trinity yang saat itu sudah bekerja menjalankan hobi nge-blognya dengan menggunakan fasilitas internet kantor secara sembunyi-sembunyi.

Trinity yang bekerja sebagai marketing communication di salah satu perusahaan informasi dan teknologi (IT) memilih nama pena tersebut karena terinspirasi film The Matrix. Nama itu juga dianggap cocok untuk menyembunyikan identitas dunia mayanya dari pemantauan kantor.

Tidak hanya membagikan tulisannya di blog, Trinity juga menempelkan stiker di warung-warung internet, soal promosi tulisannya. Dengan cara itu, blog milik Trinity perlahan populer. Selain itu, gaya bertuturnya yang tidak menggurui jadi daya tarik utama bagi banyak orang. Pada 2007, Trinity mulai menerbitkan buku setelah mendapatkan tawaran bekerja sama dengan penerbit Bentang Pustaka.

Penghasilan untuk jalan-jalan
Awalnya, Trinity membiayai perjalanan dengan uang yang dikumpulkan selama bekerja di perusahaan IT. Lama-kelamaan, dengan royalti yang ia dapatkan, Trinity makin leluasa membiayai perjalananya, dan bahkan berani berhenti dari kantor tersebut. Ia fokus menulis dan bisa membutuhkan waktu setahun untuk menyelesaikan satui buku.

Sayangnya, baru terbit beberapa waktu, The Naked Traveler kena bredel. Salah satu tulisan dalam buku itu berjudul Redlight Districk dianggap terlalu vulgar dalam menuturkan pertunjukan dewasa di Thailand dan pantai nudis. Setelah terbit lagi, buku seri pertama The Naked Traveler semakin sukses dan kemudian difilmkan.

Pengalaman blog yang ditutup juga pernah dialami Trinity. Ketika itu, pemerintah melalui Kemenkominfo tengah gencar mengampanyekan internet sehat. Akun blognya yang menggunakan unsur nama naked ikut ditutup karena dianggap mengandung unsur pornografi. Berkat protes follower-nya di Twiter, akunnya bisa dibuka kembali.

Trinity yang enggan mengungkap penghasilannya dari royalti maupun endorse hanya menyebut pendapatannya tergolong biasa. Ia beralasan karena hanya menerima beberapa produk endorse, seperti laptop, telepon seluler, dan kacamata hitam.

Selain itu, menurutnya, kebanyakan penghasilannya digunakan lagi untuk membiayai perjalanan. Setengah dari perjalanan ke 88 negara dan 30 provinsi di Tanah Air yang sudah dilakoni, berasal dari kocek sendiri. “Kalau dibayari kan nulis-nya harus sesuai keinginan yang membayari. Kalau bayar sendiri itu terserah kita mau nulis apa,” tutur perempuan yang juga pernah menjadi pemred majalah Venture dan kontributor Yahoo Travel.

“Penghasilan saya enggak buat beli apa-apa, dipakai buat jalan-jalan lagi. Mobil saya tidak punya, rumah juga punya orangtua. Saya tidak suka beli-beli. Belanja-belanja saya tidak suka,” ujar perempuan yang mengaku menangani sendiri keperluan media sosialnya. Ia tidak memiliki tim dan bahkan tidak memiliki tongsis.

Trinity menyadari jika menjadi travel blogger terkenal membuatnya berisiko kehilangan privasi. Namun, sejauh ini ia tidak merasa terlalu terganggu berkat jati diri asli yang tersembunyi di belakang nama Trinity. Di sisi lain, ia juga menikmati saat-saat dikenal orang.
“Penulis enggak kayak artis, mukaku masih belum ketahuan, tapi sekali ketahuan pasti aku dikejar-kejar pengen selfie bareng kalau ketemu di airport atau di mal. Seneng juga aku dikenal orang,” pungkas perempuan yang berencana kembali lagi menulis buku di waktu mendatang. (M-1).

Sumber: http://m.mediaindonesia.com/read/detail/215272-trinitypionir-generasi-travel-blogger